Followers

Tuesday, October 20, 2009

Untuk apa baca Quran??


Seorang Muslim tua Amerika tinggal di sebuah ladang peternakan di daerah pegunungan di timur Kentucky dengan cucu mudanya. Setiap pagi si datuk akan bangun awal dan duduk di meja dapur sambil membaca Al-Quran. Cucunya ingin menjadi seperti dia dan dia mencuba untuk meniru dalam setiap cara yang dia mampu. Suatu hari sang cucu bertanya, "Atuk! Saya mencuba untuk membaca Alquran seperti anda tetapi saya tidak mengerti, dan memahami apa yang saya lakukan, saya lupa, lantas saya menutup buku. Apa kebaikan yang kita dapat dengan membaca Al-Quran ? "

Datuk tersebut dengan tenang berpaling daripada meletakkan batu arang di dalam dapur arangnya dan menjawab, "Ambil keranjang arang batu ini turun ke sungai dan bawakan saya kembali sebuah keranjang berisi air."

Anak itu lantas membuat apa yang di suruh Atuknya, tetapi semua air tersebut bocor keluar sebelum dia sempat kembali ke rumah. Atuknya tertawa dan berkata, "Kamu harus bergerak lebih cepat sedikit pada waktu berikutnya," dia dan menyuruhnya kembali ke sungai dengan keranjang untuk mencuba lagi. Kali ini budak lelaki itu berlari lebih cepat, tetapi keranjang telah kosong sebelum dia kembali rumah. Kehabisan nafas, dia memberitahu atuknya bahawa tidak mungkin untuk membawa air dalam keranjang, dan dia pergi untuk mendapatkan baldi sebagai gantinya. Si tua berkata, "Saya tidak mau baldi air; Saya menginginkan sebuah keranjang air. Setakat usaha kamu tadi belum cukup, kamu harus berusaha lebih keras lagi," dia keluar dari pintu rumahnya untuk menonton cucunya mencuba lagi.

Pada kali ini, budak itu tahu ianya mustahil, tetapi dia ingin menunjukkan kepada datuknya bahwa meskipun dia berlari secepat dia mampu, air itu nanti akan keluar juga sebelum dia sempat kembali ke rumah lagi. Budak itu mencelup keranjang ke dalam air dan berlari secepatnya, tetapi apabila dia telah sampai kepada datuknya keranjang tersebut telah kosong lagi. Terengah-engah, ia berkata, "Lihat atuk, ia tidak berguna langsung, sia-sia sahaja!" "Jadi kamu fikir ianya sia-sia?" Si tua berkata, "Lihatlah pada keranjang itu."

Budak itu melihat pada keranjang dan untuk pertama kalinya dia menyedari bahawa keranjang itu telah berbeza dari sebelumnya. Ia telah berubah dari sebuah keranjang arang baru lama yang kotor dan kini telah bersih, di dalam dan di luar.

"Anakku, itulah yang terjadi saat kamu membaca Al-Quran. Kamu mungkin tidak memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika Anda membacanya, kamu akan Berubah, di dalam dan di luar. Itulah pekerjaan Allah dalam kehidupan kita."

Permainan yang mempermainkan kita


Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya ada satu permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah ‘Kapur!’, jika saya angkat pemadam ini, maka katalah ‘Pemadam!’”

Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik. Sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah ‘Pemadam!’, jika saya angkat pemadam, maka katakanlah ‘Kapur!’.

Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kekok.

Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Murid-murid, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membezakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita dengan pelbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu akan terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat mengikutinya.”

”Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika. Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain-lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, anda sedikit demi sedikit menerimanya. Faham?" tanya guru kepada murid-muridnya. "Faham cikgu."

"Baik permainan kedua." begitu guru melanjutkan. "Cikgu ada Qur'an. Cikgu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa memijak
karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencuba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak anda dengan terang-terang. Kerana tentu anda akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung anda perlahan-lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sedar."

"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dengan tapaknya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan dulu, almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah hancurkan."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan meletihkan anda. Mulai dari perangai anda, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka. Dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh kita.”

"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak cikgu?" tanya mereka. "Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi. Begitulah Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sedar. Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang."

Monday, October 12, 2009

Antara fitnah dan bulu-bulu ayam


Ada seorang wanita yang mengulang sepotong berita memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa telah mengetahui ceritanya. Dan, orang yang diceritakan itu merasa sakit hati dan terpukul. Kemudian si wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui bahwa berita yang ia sebarkan ternyata betul-betul salah. Dia menyesal dan mendatangi seorang orang tua yang bijak untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu. "Pergilah ke pasar," kata orang tua bijak ; "dan belilah seekor ayam, sembelihlah.... kemudian, kamu cabuti bulunya dan buang satu persatu di sepanjang jalan." ; lanjutnya.

Meski kaget mendengar ucapannya, si wanita itu melakukan apa yang disarankan kepadanya. Namun, ia merasa masih belum mampu memperbaiki kesalahannya atas penyebarluasan berita bohong itu kepada seluruh penduduk desa. Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orang tua bijak itu dan menanyakan persoalannya kembali. Si orang bijak itu berkata, "Hmm.., kalau begitu, sekarang pergilah dan kumpulkan semua bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku."

Si wanita itupun menyusuri jalan yang sama dan berusaha mengumpulkan bulu-bulu ayam yang telah dicabutinya kemarin. Namun, angin telah menerbangkan semua bulu-bulu itu kemana-mana sehingga mustahillah ia mampu mengumpulkannya semua. Setelah mencari-cari selama berjam-jam, ia kembali dan hanya mampu mengumpulkan sebanyak tiga helai bulu saja. Si wanita itu kembali menemui orang tua tadi. "Lihatlah!" ; kata si orang bijak, "sangat mudah mencabuti bulu ayam dan membuangnya. Namun sangat tidak mungkin menariknya kembali. Begitu pula dengan umpatan dan berita bohong itu. Tidak sulit untuk menyebarluaskan gosip, namun sekali terlempar, anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan anda."

Oleh karena itu, janganlah melempar berita bohong atas aib seseorang apalagi yang memang belum tentu benar dan mengarah kepada fitnah. Allah SWT telah memperingatkan para pembawa gosip dan berita bohong, sebagaimana firmanNya ; "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (QS. An Nuur, 24:15) , dan "....Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar." (QS. 24:11).

Semoga kita dapat menjaga lisan dari fitnah dan berita bohong yang dapat melukai perasaan orang lain.

Sunday, October 11, 2009

Pilih Menantu


Seorang pemuda sedang dalam perjalanannya kembali ke Kuala Lumpur dengan menaiki keretapi Mel-malam. Antara penumpang yang ramai ada seorang tua yang duduk disebelahya.
Setelah lama berdiam diri, sambil menguap si pemuda bertanya kepada orang tua tersebut, " Pakcik, pukul berapa sekarang?"

Sebuah pertanyaan yang biasa, yang kadangkala kita tujukan kepada sesiapapun kan? Dan selalunya kita akan mendapat jawapan. Namun kali ini sungguh diluar dugaan, orang tua tadi berdiam diri sahaja. Mungkin orang tua ini kurang pendengaran, berkata pemuda tersebut.
Dia mengulanginya sampai 3 kali. Namun orang tua itu tetap berdiam diri tanpa sebarang riak dari wajahnya.

Pemuda tersebut mencuit orang tua tersebut dan berkata, Saya hairan mengapa pakcik tidak menjawap pertanyaan saya? Salahkah saya bertanya? Orang tua itu menoleh sambil berkata,
"Bukannya saya tidak mahu menjawap, tapi nanti kalau saya jawap, kita pasti akan bersoal jawap mengenai soal ini soal itu, dan akhirnya kita akan bertambah mesra."

Si pemuda termangu mendengar ceramah orang tua itu. Terus dia bertanya lagi, "Lalu apa salahnya kalau kita menjadi lebih mesra?"

Orang tua itu berkata lagi, "Apabila kita bertambah mesra ketika anak gadis dan isetri saya menjemput saya di Kuala Lumpur, nanti kita akan turun sama-sama. Dan saya pasti mengenalkan mereka kepada kamu."

Si pemuda itu tambah bingung dan tidak tentu arah. "Kemudian?" tanyanya lagi.

"Isteri saya orangnya baik sekali kepada semua orang, takut nanti dia mempelawa anda ke rumah. Nanti kamu akan mandi dan berehat di rumah saya, dan juga akan kami jamu di rumah saya. Setelah itu kamu boleh menjadi rapat dengan anak gadis saya dan kamu akan menjadi teman lelaki anak saya. Lama-lama kamu akan menjadi menantu saya," katanya lagi.

Si pemuda yang tadi sudah bingung sekarang semakin bingung. Terus dia bertanya, "Pakcik, apakah hubungannya semua ini dengan pertanyaan saya yang pertama?

Sambil berdiri orang tua tersebut menjawap dengan lantang,
"Masalahnya?,

SAYA TIDAK MAHU MEMPUNYAI MENANTU SEPERTI
KAMU. JAM TANGAN PUN TAKDERRR!!!"

Monday, October 5, 2009

Takdir Allah untuk kita


Al kisah pada zaman sebelum kita, pernah ada seorang raja yang amat zalim, dan pada suatu ketika raja tersebut terkena penyakit aneh. Seluruh Tabib yang ada dikumpulkan, dibawah ancaman pedang mereka disuruh menyembuhkannya, namun sayang tak satu pun Tabib yang mampu mengobati

Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit raja hanya dapat disembuhkan dengan memakan ikan jenis tertentu, namun ikan tersebut sulit didapat. Kendati raja menyadari hal itu, diperintahkannya semua orang mencari ikan tersebut. Aneh bin ajaib, ikan tersebut ternyata mudah didapat dan raja pun sembuh dari sakitnya. Di lain tempat ada pula seorang raja bijaksana yang jatuh sakit, kendati obatnya mudah namun sulit didapat, hingga akhirnya raja tersebut tak tertolong kemudian wafat.

Melihat hal demikian para malaikat heran, kemudian menghadap Allah dan bertanya, “Ya Tuhan kami, kenapa Engkau berikan kemudahan untuk raja zalim sehingga ia selamat, sedangkan terhadap raja bijak, Engkau menyembunyikan obatnya, sehingga ia wafat”.

Kemudian Tuhan berfirman :
”Wahai, para malaikat-Ku, se-sungguhnya raja zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan, karena itu Aku balas kebaikannya itu sekarang, sehingga nanti bila menghadap-Ku tak ada lagi kebaikan yang ia miliki, dan akan Aku campakan ia ke dalam neraka yang paling bawah. Sementara raja bijak itu, pernah berbuat kesalahan pada-Ku, karenanya Aku sembunyikan obatnya, sehingga nanti ia datang kepada-Ku dengan seluruh kebaikannya. Hukuman atas dosa yang pernah ia lakukan telah Kutunaikan seluruhnya di dunia !”.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi, Nabi pernah bersabda :”Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka didahulukan baginya hukuman di dunia, berupa musibah dan kesusahan agar terhapus dosa-dosanya, dan apabila Dia menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Dia akan menahan darinya, membiarkannya dengan dosa-dosanya, sehingga dosa-dosanya dibalas pada hari kiamat”.

Makna yang terkandung dari hadits tersebut, ada kesalahan yang hukumannya langsung diberikan Allah secara kontan di dunia, sehingga di akhirat nanti dosa itu tidak akan diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan ini akan menguatkan keimanan kita bila sedang tertimpa musibah. Namun jika kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena karena jangan-jangan Allah menghabiskan tabungan pahala kita. Kita sedang dibuai oleh-Nya dengan kelezatan dan kenikmatan duniawi hingga melupakan ukhrowi.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah, (QS.2:216):, “....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Semoga kita menjadi orang-orang yang tabah dalam mengahadapi setiap musibah, dan tidak terlena dengan gemerlapnya dunia.

Janganlah aku menangis...


Suatu ketika, beberapa orang kanak-kanak mengikuti sebuah perlumbaan kereta mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka mempamerkan kehebatan setiap kereta mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Faiz. Keretanya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 orang yang
masuk final. Dibanding dengan semua lawannya, kereta Faizlah yang paling tak sempurna. Beberapa
lawannya menyangsikan kekuatan keretanya itu untuk berpacu melawan kereta lainnya.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan kereta mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong kereta mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 kereta , dengan 4 "pemandu" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat sebelum bermula, Faiz meminta waktu sebentar untuk berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".

Pertandingan telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong keretanya sekuat hati.
Semua kereta itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan keretanya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.

Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan tamat pun telah terlambai. Dan, Faiz lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Faiz. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati.

"Alhamdulillah, terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Faiz maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua juri bertanya. "Hai juara, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah swt agar kamu menang, bukan?". Faiz terdiam. "Bukan, Tuan, bukan itu yang aku panjatkan" kata Ahmad.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah swt untuk menolongku mengalahkan saudaraku yang lain, sedangkan keretaku tak setanding dengan mereka. "Aku, hanya bermohon pada Allah swt, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Sunday, September 20, 2009

Duit raya...Budaya Siapa?


“Ya lah, tadi sembahyang raya pukul 9 pagi, sekarang dah pukul 11 pagi”

Kamal melihat jam, ternyata sekarang pukul sebelas lima minit pagi. Kamal bertambah hairan. Namun yang menyebabkan dia bertambah hairan bukanlah pukul berapa sekarang tetapi bagaimana anak bongsunya yang berumur 5 tahun boleh membaca waktu.

“Nantilah petang-petang sikit kita ke rumah jiran-jiran, ke rumah Pak Ngah, kemudian ke rumah Tok Cik. OK?. Sekarang Asyraf pergi main luar” sambil menunjuk kepada abang dan kakaknya, Nur Haziq yang berumur 11 tahun dan Nur Izan yang berumur 8 tahun yang sedang duduk di bawah pokok rambutan depan rumah.


“Alaa ayah, abang dan kakak yang suruh Asyraf ajak ayah ke rumah Tok Cik. Rumah-rumah lain esok-esok pun tak apa”

“Mengapa tiba-tiba semua nak ke rumah Tok Cik? Jamal dan Ida mana?” tanya Kamal, merujuk kepada anak-anak Pak Su, adiknya.

“Mereka semua dah pergi ke rumah Tok Cik. Alaa ayah ni, jom la.
“Ada apa kat rumah Tok Cik yang kamu semua semangat sangat nak pergi ni?”

Nur Asyraf menundukkan mukanya sambil terus duduk di riba ayahnya. Maklumlah anak bongsu yang manja kepada ayahnya.

“Tok Cik…..Tok Cik bagi duit raya.”

“Kan tadi balik sembahyang atuk dah bagi, ayah dan Pak Su kamu pun dah bagi?”

“Tadi tuu….sikit... warna hijau aje. Tok Cik….Tok Cik bagi duit warna merah, dua keping…..”

“Ohh! Rupa-rupanya kamu semua ni nak ke rumah Tok Cik sebab duit raya ya?”

“Yalah ayah, duit rayalah. Nak himpun banyak-banyak. Asyraf suka Hari Raya sebab dapat himpun duit banyak-banyak.”

Apa yang diminta oleh anak-anak Kamal adalah satu perkara yang lazim berlaku pada 1 Syawal setiap tahun. Kita tidak dapat lari daripada kenyataan bahawa duit raya telah menjadi salah satu “syiar” sambutan Hari Raya di kalangan kita semua. Dalam artikel yang ringkas ini, penulis ingin mengajak para pembaca, khasnya ibubapa, untuk merenung, memikir dan menganalisa sebentar fenomena ini.

Budaya Siapa?

Tolong betulkan jika salah, sekadar yang penulis tahu, amalan memberi duit raya sempena Hari Raya bukanlah daripada ajaran Islam. Duit raya adalah budaya kaum Cina yang lazim mereka amalkan sempena sambutan Tahun Baru Cina. Budaya ini akhirnya telah membudaya di kalangan umat Islam di Malaysia sehingga dianggap sebahagian daripada “syiar” sambutan 1 Syawal. Pada waktu yang sama, “syiar” Islam yang asal dalam menyambut 1 Syawal telah diketepikan atau diberi prioriti yang ke bawah.


Apa salahnya, bukankah ia sesuatu yang baik?

Soalan di atas mungkin sedang berlegar di fikiran sebahagian ibubapa saat ini. Namun, benarkah ia sesuatu yang benar-benar baik? Terdapat dua faktor penting yang sama-sama dapat kita jadikan sumber pertimbangan:


Pertama:

Saling memberi hadiah memang merupakan sesuatu yang dianjurkan oleh Islam. Memberi hadiah dapat menjinakkan hati, menutup permusuhan dan menghubungkan silaturahim. Akan tetapi semua ini dengan syarat, hadiah tersebut diberi dengan ikhlas sekadar mampu.

Adakah memberi duit raya termasuk hadiah yang ikhlas dan sekadar mampu? Sila perhatikan poin-poin berikut:

a) Sebahagian ibubapa memberi duit raya kerana membalas tindakan ibubapa lain yang memberi duit raya kepada anak mereka. Hal ini saling berlaku antara ibubapa. Dalam kisah keluarga Kamal di atas, Kamal akan memberi duit raya kepada anak-anak Pak Su kerana Pak Su telah memberi kepada anak-anaknya duit raya. Pak Su juga memberi duit raya kepada anak-anak Kamal kerana dia tahu Kamal juga akan beri kepada anak-anaknya. Jika Kamal tidak memberi duit raya, dibimbangi Pak Su akan kecil hati atau mungkin lebih berat daripada itu. Maka sedar atau tidak, tindakan saling memberi duit raya tidak lahir kerana keikhlasan tetapi kerana keterpaksaan.

b) Kadar duit raya yang diberikan lazimnya diukur berdasarkan kadar duit raya yang diterima. Jika Pak Su memberi anak-anak Kamal lima ringgit setiap seorang, Kamal juga akan memberi anak-anak Pak Su lima ringgit setiap seorang. Jika jiran memberi anak-anak Kamal seringgit setiap seorang, Kamal juga akan memberi anak-anak jiran tersebut seringgit setiap seorang. Jika diberi lebih, katakan lima atau sepuluh ringgit setiap seorang, dibimbangi jiran tidak mampu untuk membalas dengan kadar yang sama pada tahun depan sehingga dia akan rasa serba salah. Bahkan lebih buruk, mungkin jiran akan terasa bahawa Kamal ingin menunjuk dengan kadar duit raya yang agak tinggi tersebut. Sama-sama kita ketahui bahawa keikhlasan dalam memberi ialah ia tidak diukur dengan apa-apa skala yang telah ditetapkan. Jika pemberian adalah berdasarkan skala ukuran tertentu, maka ia mencemari keikhlasan pemberian tersebut.

c) Dalam suasana masa kini, kadar duit raya tidak lagi sekadar wang logam tetapi wang kertas. Tidak dapat tidak, hal ini akan memberatkan ibubapa yang perlu mengeluarkan wang untuk disediakan sebagai duit raya. Belanjawan untuk duit raya juga bukan sekadar seratus ringgit, tetapi jauh lebih banyak kerana perlu “dihadiahkan” kepada anak-anak buah, anak-anak jiran, anak-anak rakan dan sebagainya. Belanjawan duit raya juga berkadar terus dengan skala pendapatan ibubapa. Jika ibubapa bekerjaya lumayan, secara automatis dijangkakan bahawa mereka akan memberi duit raya yang banyak juga. Selain itu, sama ada bekerjaya lumayan atau sederhana, duit raya sedikit sebanyak memiliki peranan dalam menambah bebanan belanjawan setiap ibubapa.

d) Ibubapa bukan sahaja perlu mengeluarkan wang, tetapi juga beratur panjang untuk mendapatkan wang tersebut dalam kertas yang baru dengan pecahan yang betul. Berapa ramai di antara para ibubapa yang sebelum ini perlu beratur panjang di bank? Bukan sekadar itu, setelah hampir sejam beratur, apabila sampai giliran di kaunter, pecahan yang diingini telah kehabisan. Maka terpaksalah beratur di bank lain atau datang semula esok-lusa. Sementara beratur dan kembali beratur, kerja di pejabat terabai. Ajaran Islam menegaskan, tidak boleh melakukan amal yang sunat dengan mengabaikan amal yang wajib. Memberi duit raya sebagai hadiah yang ikhlas adalah amalan sunat tetapi kerja di pejabat adalah amanah yang wajib.

Empat poin di atas insya-Allah akan dapat membantu menjawab persoalan sama ada duit raya adalah satu hadiah yang ikhlas dan berdasarkan kemampuan. Penulis yakin setiap ibubapa yang berlainan akan memberikan jawapan yang berlainan. Yang penting, harap jawapan itu adalah ikhlas untuk diri sendiri.

Perkara lain yang ingin penulis tekankan, empat poin di atas tidak berlaku untuk semua ibubapa. Penulis akur bahawa memang terdapat ibubapa yang memberikan duit raya secara ikhlas tanpa terkesan langsung dengan empat poin di atas. Oleh itu harapnya tidak wujud salah faham bahawa penulis mengkategorikan semua ibubapa dalam kumpulan yang sama.


Kedua:

Kebaikan duit raya benar-benar akan berubah menjadi keburukan jika ibubapa benar-benar memikirkan natijah yang sedang atau bakal menimpa anak-anak mereka sendiri. Sedar atau tidak, duit raya mendidik anak-anak menjadi seseorang yang materialistik. Mereka bergembira untuk menyambut 1 Syawal tetapi kegembiraan itu lebih tertumpu kepada duit raya yang bakal diperolehi. Mereka bergembira untuk balik kampung namun di celah-celah kegembiraan tersebut terselit faktor “duit raya”. Mereka memilih rumah mana yang patut diziarah terlebih dahulu berdasarkan kadar duit raya yang bakal diperolehi. Mereka memilih kasih di antara ahli keluarga dan sanak saudara berdasarkan jumlah duit raya yang diberikan.

Malah sebahagian anak-anak ada yang memberitahu ibubapa mereka bahawa mereka akan keluar berhari raya dengan rakan-rakan. Akan tetapi yang benar mereka bukan berhari raya tetapi menjadi peminta sedekah. Mereka bersama rakan-rakan pergi dari rumah ke rumah sambil melaungkan “Assalamu‘alaikuuuum!” Yang diharapkan bukanlah sekadar “Wa‘alaikumussalam” tetapi diiringi sampul yang memiliki duit raya di dalamnya.


Jika begitu, anak-anak nak berhari raya dengan apa?

Penulis berharap soalan di atas tidak timbul daripada kalangan ibubapa yang budiman sekalian. Jika ia timbul, maka jelas bahawa duit raya benar-benar telah menenggelamkan “syiar” Islam yang terkandung dalam sambutan 1 Syawal. Sudah tiba masanya ibubapa memikirkan tindak tanduk mereka selama ini dalam bab sambutan 1 Syawal dan kaitannya dengan duit raya.


Sesiapa yang nak ambik apa2 artikel dalam blog ini adalah di alu-alukan, tak perlu minta izin dari aku, sama2 la kongsi ilmu, manfaatkan apa yang ada, sebaik-baiknya, rekemenkan blog ini kepada rakan2, jiran2, adik beradik anda, dan kepada siapa sahaja yang anda kenal dan rasa sesuai termasuk ketua kampung dan jkk kawasan anda....tq